Minggu, 26 Februari 2012

Menjaga Kesehatan Ginjal

Pantangan Makanan Penderita Ginjal

Pantangan makanan bagi penderita gangguan fungsi ginjal
Apa yang akan terjadi bila penderita gagal ginjal kronik mengonsumsi makanan dengan kadar protein yang tinggi, seperti pada daging, ikan, telur dan produk susu? Bila sisa metabolisme protein dalam tubuh yang diukur sebagai ‘blood urea nitrogen’ / BUN, didapatkan pada tingkat yang tinggi dalam darah, akan menyebabkan penderita merasa mual, muntah, kehilangan nafsu makan dan merasa letih.Lain halnya dengan makanan tinggi kalium seperti pada alpukat, asparagus, buah bit, kacang polong kering, kentang, ubi, labu, tomat, pisang, melon, aprikot, buah-buahan yang dikeringkan/manisan, jeruk sitrun, pepaya, kacang-kacangan, coklat, jus, susu dan yogurt, yang bila tertumpuk dalam tubuh penderita dapat menyebabkan gangguan irama jantung hingga gangguan fatal yaitu henti jantung.
 
Kegagalan fungsi ginjal menyebabkan kelebihan garam atau natrium sukar dikeluarkan dari dalam tubuh, sehingga penderita sering merasa haus dan terjadi penimbunan cairan dalam tubuh. Beberapa makanan tinggi natrium yang hendaknya dihindari antara lain garam meja, semua bumbu dengan kandungan garam, daging olahan, makanan beku, makanan kaleng, acar, produk susu, keripik dan kacang-kacangan. Perhatikanlah label kandungan makanan saat Anda ingin membeli makanan di supermarket.

Komponen lain yang dapat memperberat kerja ginjal yang telah menurun fungsinya adalah makanan tinggi fosfat yang terdapat dalam produk susu, kacang-kacangan, gandum, kacang polong kering, minuman keras dan coklat. Tingginya kadar fosfat dalam darah pada penderita gagal ginjal kronik dapat mempengaruhi kepadatan tulang, sehingga mudah patah. Oleh karena itu penderita gagal ginjal kronik biasanya mengonsumsi suplemen pengikat fosfat yakni kalsium dan vitamin D.

Dari semua komponen kandungan makanan yang dapat memperberat kerja fungsi ginjal, tentu penderita juga harus memperhatikan asupan kalori, seperti karbohidrat, lemak dan gula dalam jumlah yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan energi dalam tubuh.
Kristal penyebab terbentuknya batu dapat disebabkan kalsium yang banyak terdapat dalam susu; oksalat yang terdapat dalam teh, bayam dan coklat; serta fosfat dari sayuran daun singkong. “Mengonsumsi jeroan, hati, jantung, dan otak dapat pula menimbulkan kadar urat di ginjal menjadi berlebih,” ujar Bernard dalam media gathering di RS Gading Pluit, belum lama ini.
Vitamin C berlebih dalam tubuh juga dapat membentuk batu oksalat di dalam ginjal namum semua itu sebetulnya bisa dikembangkang dengan mengonsumsi makanan yang mengandung asam sitrat yang banyak terdapat dalam jeruk lemon dan jeruk nipis, dan glycosaminoglycan yang berada dalam rumput laut.

Jeruk Nipis
J
eruk nipis dapat mencegah timbulnya batu ginjal dan kekambuhan batu ginjal, khususnya batu ginjal kalsium idiopatik. Demikian, penelitian yang dilakukan Prof. Sja’bani, Kepala Instalasi Renal RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Sja’bani dan Dr. Djoko Rahardjo, Sp.PD KGH dari FKUI/RSCM meneliti keluarga penderita batu ginjal pada tahun 1996. Pada laki-laki keuarga tersebut terdapat batu ginjal dan keluarga perempuan tidak ada batu ginjal sama sekali. Setelah ditelusuri, ternyata keluarga perempuan tersebut suka mengonsumsi jeruk nipis yang ditujukan untuk melangsingkan tubuh.

Hasil penelitian lebih lanjut, jeruk nipis mengandung sitrat yang tinggi yang dapat mencegah terjadinya batu ginjal. Pasalnya, penderita batu ginjal memiliki kadar sitrat yang rendah.

Jeruk nipis lokal (citrus aurantifolia swingle bulat) memiliki kandungan sitrat 10 kali lebih besar ketimbang jeruk keprok. Sedangkan dibandingkan jeruk manis, jeruk nipis memiliki kandungan sitrat enam kali lebih tinggi. Jeruk nipis lokal memiliki kandungan sitrat sebesar 55,6 gram/kg, jeruk keprok (citrus nobilis lour) 5,4 gram/kg dan jeruk manis (Citrus sinensis Osb) mencapai 8,75 gram/kg.

Dikonsumsi sesudah makan malam
 
Mengonsumsi jeruk nipis setiap hari berdampak baik bagi kesehatan ginjal Anda. Biasanya sitrat di dalam air kemih pada penderita batu ginjal paling rendah pada malam dan menjelang pagi hari. Jadi pemberikan jeruk nipis menjadi lebih bagus hasilnya bila dikonsumsi sesaat sesudah makan malam.

Cara mengonsumsinya: peras dua buah jeruk nipis berukuran sekitar 4,5 cm yang diencerkan dalam dua gelas air. Konsumsi malam hari sesaat sesudah makan malam.

Batasi makanan tertentu
 
M engingat jenis batu ginjal idiopatik ditemukan pada 80 persen penderita batu ginjal, maka pencegahan batu ginjal jenis ini sangat penting. Yaitu dengan cara membatasi mengonsumsi garam atau makanan yang asin, mengonsumsi masukan kalsium yang cukup dan protein rendah fosfat. Dengan cara makan seperti itu diharapkan dapat menurunkan atau mencegah terjadinya batu ginjal sehingga ginjal Anda tetap terjaga kesehatannya dan dapat berfungsi dengan baik.

Pencegahan Batu Ginjal
  • Minum cukup 2 – 2,5 liter per hari
  • Hindari minuman atau makanan yang banyak mengandung ion lithogenik berupa coklat, teh, jeroan, seafood, susu dan keju.
  • Konsumsi cukup inhibitor seperti terdapat dalam jeruk nipis dan rumput laut.
  • Banyak bergerak.
  • Tidur telentang.
  • Bila terjadi keluhan sebaiknya secepatnya konsultasi dengan dokter.

apa itu penyakit ginjal ?

DALAM istilah kedokteran, batu ginjal disebut Nephrolithiasis atau renal calculi. Batu ginjal adalah suatu keadaan terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau calyces dari ginjal atau di dalam saluran ureter. Pembentukan batu ginjal dapat terjadi di bagian mana saja dari saluran kencing, tetapi biasanya terbentuk pada dua bagian terbanyak pada ginjal, yaitu di pasu ginjal (renal pelvis) dan calix renalis. Batu dapat terbentuk dari kalsium, fosfat, atau kombinasi asam urat yang biasanya larut di dalam urine.

Batu ginjal bervariasi ukurannya, dapat bersifat tunggal atau ganda. Batu-batu tinggal dalam pasu ginjal atau dapat masuk ke dalam ureter dan dapat merusak jaringan ginjal. Batu yang besar akan merusak jaringan dengan tekanan atau mengakibatkan obstruksi, sehingga terjadi aliran kembali cairan. Kebanyakan batu ginjal dapat terjadi berulang-ulang.

Apakah penyebabnya? Batu ginjal dijumpai pada 1 dari 1.000 orang, biasanya lebih banyak dijumpai pada pria (berumur 30-50 tahun) ketimbang wanita. Juga banyak dijumpai di daerah tertentu. Walaupun secara pasti tidak diketahui penyebab batu ginjal, kemungkinannya adalah bila urine menjadi terlalu pekat dan zat-zat yang ada di dalam urine membentuk kristal batu.

Penyebab lain adalah infeksi, adanya obstruksi, kelebihan sekresi hormon paratiroid, asidosis pada tubulus ginjal, peningkatan kadar asam urat (biasanya bersamaan dengan radang persendian), kerusakan metabolisme dari beberapa jenis bahan di dalam tubuh, terlalu banyak mempergunakan vitamin D atau terlalu banyak memakan kalsium.

Gejala

Walaupun besar dan lokasi batu bervariasi, rasa sakit disebabkan oleh obsruksi merupakan gejala utama. Batu yang besar dengan permukaan kasar yang masuk ke dalam ureter akan menambah frekuensi dan memaksa kontraksi ureter secara otomatis. Rasa sakit dimulai dari pinggang bawah menuju ke pinggul, kemudian ke alat kelamin luar. Intensitas rasa sakit berfluktuasi dan rasa sakit yang luar biasa merupakan puncak dari kesakitan. Apabila batu berada di pasu ginjal dan di calix, rasa sakit menetap dan kurang intensitasnya.

Sakit pinggang tejadi jika batu yang mengadakan obstruksi berada di dalam ginjal. Sedangkan, rasa sakit yang parah pada bagian perut terjadi bila batu telah pindah ke bagian ureter. Mual dan muntah selalu mengikuti rasa sakit yang berat. Penderita batu ginjal kadang-kadang juga mengalami panas, kedinginan,adanya darah di dalam urin bila batu melukai ureter, distensi perut, nanah dalam urine.
Bagaimanakah diagnosisnya? Dokter akan menanyakan gejala yang dialami, kemudian melakukan tes sebagai berikut:

1.Foto sinar X dari ginjal, ureter, dan kandung kemih untuk menunjukkan adanya batu ginjal.
 
2.Ultrasound ginjal, merupakan tes noninvasif yang mempergunakan gelombang frekuensi tinggi akan mendeteksi obstruksi dan perubahannya.
 
3.Pemberian intravena zat pewarna dan scan memberi konfirmasi diagnosis dan menentukan ukuran dan lokasi batu ginjal.
 
4.Analisis batu untuk mengetahui kandungan mineralnya.
 
5.Analisis kultur urine untuk menunjukkan jenis bakteri penyebab infeksi, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar